POHON KEHIDUPAN DAN KARMAPHALA

Pohon Kehidupan




POHON KEHIDUPAN dan BUAH KARMA 


Anakku,

Engkau yang bermula dari kekosongan, engkau yang berawal dari sebuah kegelapan, dimana saat ini engkau sedang mencari cahaya terang dan hangat untuk melihat siapa dirimu saat ini dan kemanakah engkau nanti pergi? Dengarkanlah seruan kebijaksanaan ini.

Hidupmu adalah seperti sebuah pohon. Engkau harus melalui 3 fase kehidupan sebelum engkau mengerti untuk apa dirimu ada.

Lihatlah pohon di sekelilingmu itu!
Bagaimanakah ia bertumbuh sejak awal mulanya ia hidup?
Ia bermula dari sebuah biji yang ditanam pada tanah bumi ini. Tanah yang menjadi awal mula terciptanya engkau juga. Benih yang ditanam itu adalah rohmu, dan tanah itu adalah elemen pembentuk tubuhmu. Rohmu itu akan memulai membentuk akar kehidupan yang akan mulai menumbuhkan tubuhmu sebagai permulaan batang kehidupanmu kelak. Sebelum akar itu membentuk batang yang kuat, akar akan mencari makanan di dalam tanah untuk sumber kekuatan batangnya, demikian juga roh mu akan diberi bekal oleh Tuhan apa saja misimu di dunia ini, kekuatan apa yang akan kau bawa, serta buah apa yang harus kau hasilkan, dan untuk siapakah buahmu itu. Ingatlah, benih yang ada pun berasal dari tanaman sebelumnya, buah sebelumnya. Sama seperti buah karmamu sebelumnya, itulah benih yang tertanam sebelum engkau lahir. Bibit karma dari mana engkau lahir, itulah buah yang akan engkau hasilkan. Semua itu  fase pertama dalam hidupmu.

Ketika akar itu telah cukup kuat untuk menumbuhkan batang kehidupanmu, maka batang kehidupan itu mulai terbentuk dan menembus tanah untuk mencari terang mentari agar terus boleh mendapatkan pertumbuhan dari kehidupannya. Tidak sadarkah engkau anakku? Bahwa demikian juga hidupmu di awal kehidupanmu? Engkau belajar mencari terang dan asupan demi asupan untuk membuat dirimu tumbuh dan berkembang?

Bukan perkara mudah ketika batang muda itu beranjak menjadi batang yang kokoh dan siap menghasilkan buahnya kelak. Banyak tantangan dan godaan serta ketidakpastian yang menghadang.  Ia akan menghadapi banyak perkara, mulai dari hama, dimakan oleh pemangsa, angin kencang menyebabkan daunnya berguguran, hingga layu karena kekurangan air dan panas serta keringnya udara sekitar. Apakah hidupmu juga sama seperti itu? Dimana engkau menghadapai banyak permasalahan hidup dan pembelajaran demi pembelajaran. Dimana engkau hidup dan berbagai masalah yang engkau hadapi, disanalah dirimu akan terbentuk dan bagaimana bentuk pohon kehidupanmu.

Anakku,

Ketika engkau bertumbuh mengokohkan pohon kehidupanmu, janganlah terus engkau memburu mengejar agar engkau segera menghasilkan daun dan buahmu. Ingatlah selalu akar dimana engkau bermula. Ya.... demi membentuk batang pohon yang kuat, diperlukan akar yang kuat pula untuk tetap menghidupi batang tersebut. Untuk membangun kehidupanmu yang kuat dan menghasilkan buah, ingatlah tentang rohmu itu. Roh mu itu perlu kekuatan agar pohon kehidupanmu tegar dan menghasilkan buah. Apabila sebuah akar mendapatkan asupan nutrisi yang tidak sehat,  tanah yang asam dan beracun, pohon pasti akan mengalami penghambatan pertumbuhan bahkan menderita penyakit. Jika rohmu tidaklah murni dan terikat akan kekotoran hal duniawi, bisa dipastikan pohon kehidupanmu tidaklah  sehat sebab mengalami ketidakseimbangan. Pohon kehidupanmu dapat menjadi layu dan tidak berbuah bahkan mati sebelum berbuah. Disanalah engkau belajar bagaimana agar akar pohonmu mendapatkan asupan yang baik, disanalah engkau akan mengerti bahwa pohon kehidupanmu takkan dapat terpisahkan dari akar roh mu itu anakku. Dan itulah fase kedua dalam hidupmu.

Setiap apa yang ditanam, itulah yang dituai. Tidak mungkin menanam bibit mangga, berbuah nangka. Demikianlah jika benih yang telah bertumbuh itu tidak akan menghasilkan buah yang berbeda. Fase terakhir dalam hidupmu adalah bagaimana engkau menghasilkan buah dari pohon kehidupanmu sesuai buah karma yang engkau bawa saat ini. Disinilah engkau harus mencari terang itu agar seluruh pohon kehidupanmu menemukan cara dan formula dari terang itu untuk membuat buahmu masak nanti. Carilah terang itu anakku...
Ya terang yang akan membuatmu menghasilkan buah yang pantas dan nikmat sesuai dengan benih yang tertanam di dalam engkau. Terang itu yang akan menuntunmu kemana engkau akan berdiri mengikutinya dan belajar menghasilkan buah itu.

Terang itu adalah cinta kasih, dan kemurnian alam semesta ini yang sering engkau sebut sebagai Tuhan dengan berbagai sebutan nama di dalam budayamu masing-masing. Sebab dengan cinta kasih, buahmu akan sempurna menghasilkan.
Dengan roh yang baik engkau akan menghasilkan kekuatan dalam kehidupanmu, tapi dengan cinta kasih Tuhan engkau akan berbuah anakku.
Pohon yang mencari terang dan kehangatan dari terang itu, akan menghasilkan buah yang baik adanya, sedangkan pohon yang selalu berada dalam kegelapan dan tanah yang asam, cenderung menghasilkan buah yang tidak baik pula karena tidaklah demikian prosesnya.

Buah yang engkau hasilkan adalah karmamu sendiri. Apakah buah yang engkau hasilkan adalah buah yang manis, pahit, atau asam, itu akan berbuah seperti prosesnya dari akar pada mulanya hingga berbuah.

Ingatlah anakku, buah itu adalah karma yang engkau hasilkan dalam kehidupanmu. Buah karmamu itulah juga yang akan menjadi benih kembali untuk kehidupan yang selanjutnya.

Jadilah buah yang baik, agar engkau menghasilkan benih yang baik juga.
Sering terjadi, benih yang asam akan menghasilkan buah yang asam, demikian sebaliknya yang manis, tetapi terkadang benih yang asam dapat menghasilkan buah yang manis atau benih yang manis dapat menghasilkan buah yang asam.

Semua itu tergantung bagaimana engkau hidup dan bertumbuh anakku sayang.
Apakah akarmu cukup kuat dan ternutrisi dengan baik?
Apakah rohmu menjadi murni dan melahirkan buah kebaikan bagi yang menikmatinya? Ataukah rohmu terikat lumpur dosa keduniawian sehingga membuat jijik bagi yang memakannya??
Apakah hidupmu sudah cukup tegar menghadapi berbagai cobaan dan tantangan sehingga engkau tidak berbuah dan mati atau  justru memberi manfaat baik lainnya selain buahmu sendiri?
Apakah engkau sudah mencari terang itu lalu berbuah yang baik? Atau engkau hanya menjadi pohon yang kerdil karena enggan mencari terang sehingga buahmu tidak baik dan tidak berguna dan harus dipotong dan dibuang?

Dengarkanlah kebijaksanaan ini, dan bertumbuhlah menjadi buah yang nikmat dan benih yang baik.

Eling lan waspada

#sabdopalon_wisdom

Lihat lebih banyak di Facebook Fanpage kami :

~~> Hikmat Kebijaksanaan Hidup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar