KERENDAHAN HATI SANG SULTAN!
Sultan Hamengkubuwono IX adalah salah satu
raja dari Kerajaan Mataram Ngajogyakarta yang hidup pada masa Perjuangan
kemerdekaan Indonesia. Beliau adalah seorang Raja yang berhikmat bijaksana,
dicintai rakyatnya karena adil,penuh kasih sayang dan rendah hati, serta
dihormati oleh kolega, mitra, maupun dunia luar.
Sultan sangatlah gemar mengendarai mobil
Jeep kemana pun beliau melangkah. Selain kegemarannya tersebut dan oleh karena
rasa kasih sayang dan kerendahan hatinya, Beliau gemar pula memberikan
tumpangan gratis kepada rakyat yang ditemuinya dalam perjalanannya, tanpa
memandang status, umur, dan kepentingan tertentu.
Alkisah, Suatu waktu ketika Sultan hendak
berpulang menuju Keraton Dalem, Beliau member tumpangan kepada seorang pedagang
wanita ( Si Mbok – dalam bahasa jawa ). Tak hanya memberikan tumpangan, bahkan
ketika menaikkan dan menurunkan barang dagangan si Mbok tersebut Sultan tak
segan – segan untuk membantu.
Oleh karena jaman dahulu itu tidaklah
secanggih jaman sekarang, tidak semua rakyat Sultan dapat melihat atau
mengetahui secara langsung rupa dan wajah Sultan. Sebab ketidaktahuan tersebut,
Si mbok itu berpikir memberikan upah selayaknya kepada orang yang telah
membantunya itu. Sang Sultan dengan rendah hati menolak secara santun pemberian
si Mbok tersebut dan segera pamit untuk pergi.
Si mbok yang bingung dengan sikap orang
asing tersebut pun ngedumel (ngomel-ngomel) sendiri, hingga memancing rasa
ingin tahu kawannya dan menanyakan tentang kegalauan si Mbok tersebut. Si Mbok
dengan polosnya berceloteh “ Lha piye toh wong iku? Wis kerjo kok ora gelem
diparingi arto? “ yang dalam arti bahasa indonesianya “ Bagaimana sih orang
itu? Habis kerja kok menolak diberi uang? “, Kawan si Mbok itu pun tertawa akan
kepolosan Mbok itu. “ Mbok, Mbok, Kowe ki ora ngerti to? Seng nulungi kowe kuwi
Sultan lho! “ yang artinya “ Mbok, Mbok, Kamu ni tidak tahu ya? Yang menolong
kamu tadi itu Sultan lho!”.
Si Mbok yang menyadari ketidaktahuan dan
kesalahannya itu pun terkejut setengah mati dan akhirnya dia pun pingsan!
Kisah ini begitu terkenal di antara rakyat Yogyakarta. Kerendahan hati dan kasih sayang Sultan terhadap rakyatnya meskipun Sultan memberikan sesuatu bukan karena sama - sama menguntungkan atau berdasar asas kepentingan. Sebuah perhatian kecil pada rakyatnya memberikan teladan luar biasa akan kepemimpinannya.
Klik saya Jika anda suka dengan postingan di atas!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar