MANUNGGALING KAWULO GUSTI


MANUNGGALING KAWULO GUSTI


Manunggaling Kawulo Gusti adalah bersatunya sifat Allah pada manusia, menjadi serupa dengan sifat pribadi Allah.
Manusia paham dan mengerti betul sifat - sifat Allah (Pemurah, Pengampun, Penuh Kasih, Benar, Adil, Setia, dll).
Melepaskan semua nafsu yang mengikat, menyatukan frekwensi kita dengan Allah pencipta alam semesta. 

Pada jaman dahulu, Moksa adalah salah satu jalan hidup menjadi manunggaling kawulo Gusti, membersihkan semua kotoran daging dan jiwa. 
Jalan hidup ini adalah jalan yang dipilih oleh Mahapatih Gajah Mada, sehinga berhasil mempersatukan Nusantara.

Jalan hidup Hyang Mukti Palapa (Jalan hidup kesederhanaan), bukan Hyang Mukti Wiwaha (Jalan hidup kemuliaan). Karena sifat Allah sebenarnya sederhana tapi mulia, berbeda dengan sifat setan yang gila akan kemuliaan tapi sebenarnya hina.

Manunggal berarti satu, menyatu.
Kawulo dapat berarti hamba, rakyat, manusia, kedudukan diri yang rendah.
Gusti berarti raja, yang agung, tuan, maupun Tuhan.
Manunggal Kawulo Gusti dalam artian tersurat bisa berarti Bersatunya manusia dengan Allahnya / Tuhannya. Artian ini di dapat ketika pada jaman hindu dan buddha dulu, kerinduan manusia untuk dekat dengan Tuhannya begitu mendalam bukan seperti saat ini yang justru banyak mempertanyakan eksistensi Tuhannya.
Manusia sadar akan kelemahannya dan kekurangannya, tiada kesempurnaan  dalam manusia, karena sudah hakikatnya manusia itu tidaklah sempurna meski manusia selalu mencari akan sesuatu yang sempurna.
Sifat keinginan manusia yang mendambakan sebuah kesempurnaanlah jadi awal pemicu sebuah dosa pertama setelah penciptaan manusia. Iblis dengan mudahnya menggoda manusia untuk menjadi tidak taat akan perintah Allah penciptanya. Menjadi seperti Allah yang mengetahui segalanya. Itulah godaan Iblis kepada Hawa, si tulang rusuk adam untuk memakan buah pengetahuan di tengah tengah taman firdaus yang kemudian memberikannya kepada Adam.
Sebuah ketidaksempurnaan manusia yang turut diciptakan Tuhan adalah Nafsu. Sebuah “sarana” emosional untuk manusia memenuhi kebutuhan hidup maupun bertahan dari kerasnya kehidupan di dunia ini. Juga sebagai penyeimbang dari segala faktor yang ada di dunia ini.

Definisi nafsu menurut wikipedia adalah Hawa Nafsu merupakan kekukatan psikologis yang kuat yang menyebabkan suatu hasrat atau keinginan intens terhadap suatu objek atau situasi demi pemenuhan emosi tersebut. Dapat berupa hawa nafsu untuk pengetahuan, kekuasaan, dan lainnya. Pada umumnya dihubungkan dengan hawa nafsu seksual.

Sumber :https://id.wikipedia.org/wiki/Hawa_nafsu

Nafsu pada mulanya adalah sebuah kontrol akan sesuatu di dalam tubuh manusia atau bisa dikatakan sebagai sebuah psikologis control. Sebuah “rasa” yang menjadikan manusia makhluk otomatis tanpa harus diperintah. Namun, sebuah hukum penciptaan alam semesta mengatakan, semua ada lebih dan kurang, namun semua kembali kepada keseimbangan. Tuhan sangat bangga dan turut menghormati akan semua ciptaannya serta hukum – hukum yang mengaturnya. Begitu pula nafsu, semua mempunyai parameter / batas tertentu. Jika terlalu rendah juga tidak baik karena akan menjadikan manusia tanpa tujuan. Namun, jika terlalu tinggi maka akan membawa kehancuran. Itulah yang tidak disukai Tuhan jika manusia terlalu mempunyai nafsu tinggi. Maka dari itu dimunculkanlah penyeimbangnya yaitu akal budi. Sebuah kekuatan psikologis yang tidak dimiliki oleh ciptaan lain seperti hewan, tumbuhan, dll. Akal budi inilah yang membuat manusia menarik diri dari sisi negatif menjadi normal kembali. Menjadikan dirinya sadar akan nafsu yang merusak dan menjadikannya mengenal siapa Allah penciptanya dan sifat – sifatnya. 
Akal budi ini adalah turunan dari sifat Allah/Tuhan itu sendiri. Dimana kebenaran dan ketaatan berada disana. Sebuah sistem akan berlaku baik apabila sistem itu teratur karena subsistem – subsistem yang ada di dalamnya taat menjalankan peran dan fungsinya masing – masing.
Sistem antara kekuatan nafsu dan akal budi saling tarik menarik yang membuat keseimbangan tetap terjaga. Itulah yang baik menurut Tuhan sejak awal manusia diciptakan. Namun, ada pihak yang menginginkan keindahan keseimbangan tersebut hancur dan beralih dari Allah penciptanya. Ia menggoda manusia untuk memperbesar Nafsunya dan melupakan akal budinya. Menjadikan manusia sebagai “pemakan” sesamanya, menjadi bangga akan dirinya sendiri, menumpahkan darah sesamanya demi kepentingan pribadinya sendiri, bahkan mempertanyakan Tuhan penciptanya. Kelemahan manusia inilah menjadi kekuatan untuk menjauhkan Tuhan dari manusia yang diciptakan-Nya.
Sejatinya, Tuhan sangat mengasihi ciptaan-Nya. Terutama karena alasan manusia diciptakan dan ditugaskan untuk menjaga, merawat bahkan mengembangkan kehidupan di bumi menjadi lebih baik.

Klik saya Jika anda suka dengan postingan di atas!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar